Jelang Bulan Ramadan, Desa Bojen Gelar Mapag Sri

Kepala Desa Bojen, Badrudin (kedua dari kiri), bersama Kapolsek Panimbang, AKP Ilman Robiana dan Plt Camat Sobang, Mahpudin dalam acara adat Mapag Sri, Selasa (25/02/2025).

KRAKATAURADIO.COM, SOBANG - Mapag Sri yang merupakan tradisi adat masyarakat Jawa dan Sunda untuk menyambut panen raya terus dilestarikan. Tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kali ini, masyarakat Desa Bojen, Kecamatan Sobang, Kabupaten Pandeglang, yang menggelar tradisi Mapag Sri Pohaci dengan tema 'Pegang Teguh Jati Diri, Kompak Dalam Adat dan Budaya, Guyub Rukun Urip Ning Desa', Selasa (25/02/2025).

 

Berdasarkan pantauan, kegiatan ini diawali dengan penampilan tari lengser yang menyambut Kepala Desa dan tamu undangan dari satuan Muspika Kecamatan Sobang, tokoh masyarakat, dan tokoh adat di halaman Kantor Desa Bojen.

 

Rombongan kemudian memulai kegiatan dengan arak arakan dengan menggotong padi serta berbagai macam hasil panen palawija. Kreasi budaya setempat seperti burok juga ikut serta ditampilkan.

 

Ratusan masyarakat tumpah ruah memenuhi jalan menuju lokasi acara di Kampung Bojen Induk. Kegiatan ini juga dimeriahkan seni budaya wayang purwa pusaka rama 9.

 

Kepala Desa Bojen, Badrudin, A.Md. Kep., menuturkan, dalam adat mapag sri kali ini bertepatan dengan menyambut bulan suci Ramadan 1446 Hijriah.

 

“Berbarengan juga dengan menyambut datangnya bulan suci Ramadan dan setelah nanti mapag sri itu di desa Bojen akan diadakan panen raya. Mudah-mudahan bersamaan dengan menyambut bulan suci Ramadan panen yang ada di desa Bojen ini akan melimpah dan menjadi berkah bagi masyarakat,” kata dia.

 

Ia menerangkan, warganya sangat menyambut hasil panen kali ini. Apalagi dengan adat mapag sri yang dilakukan masyarakatnya, khususnya para petani.

 

“Untuk per hektar itu yang kita hasilkan 1 hektar itu kurang lebih 6 sampai 7 ton. Untuk luas lahan sendiri yang produktif di desa Bojen itu 562 (hektar) lahan pertanian produktif yang ada di desa Bojen,” ujarnya.

 

Baca: Wabup Iing: Memimpin Pandeglang Dibutuhkan Super Team

 

Baca: Rumah Makan Jembatan Pamatang Pak Dirman Cocok untuk Munggahan

 

Hasil panen yang dibawa masyarakat Desa Bojen, Kecamatan Sobang, Selasa (25/02/2025).

Ditempat sama, Ketua dewan adat, Sukarma Wijaya menuturkan, makna dari mapag sri sendiri sebagai bentuk rasa syukur dalam menyambut hasil panen para petani.

 

“Itu mengucapkan rasa syukur dengan adanya adat mapag sri di awal panen. Jadi menyongsong atau menyambut dewi sri yang berbentuk padi, gitu,” ucap dia.

 

Menurut dia, adat ini selalu dilakukan masyarakat petani setiap tahunnya. Pihaknya juga telah melakukan sedekah bumi yang dilakukan sebelum masa tanam. Diharapkan, keberadaan para petani di Desa Bojen dapat lebih diperhatikan oleh pemerintah.

 

“Selain itu saya mohon bimbingannya kepada seluruh instansi pemerintahan supaya desa kita ini dijadikan desa wisata adat dan budaya,” imbuhnya.

 

Baca: Munggahan, Porwan Pandeglang Gelar Lomba Mancing Bersama BJB

 

Ditempat sama, kordinator penyuluh (korluh) pertanian Kecamatan Sobang, Ombi Romli menyebut, potensi pertanian di Sobang menjadi kedua terbesar setelah Cikeusik dengan luas mencapai 3.513 hektar.

 

Terkait dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Gabah Kering Panen (GKP) untuk tahun 2025, telah ditetapkan sebesar Rp 6.500 per kilogram. Pihaknya mengaku akan melakukan pengawasan terkait HPP.

 

“Setiap hari kita ada laporan panen ke Kementerian. Jadi kita laporkan hari ini panen dimana, luasnya berapa, yang beli siapa, harganya berapa. Kalau harga itu nanti termonitor di bawah HPP maka bulog akan turun,” pungkasnya.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.