Siaran Pers: Perkembangan Aspek Sosial Peserta Didik Ditinjau dari Kasus Nyata di Lingkungan Sekolah
![]() |
| Ilustrasi peserta didik. |
Penulis: Cahya Ramadhani, Tyas Septianingsih, Eneng Fadilah
Mahasiswa PGSD Semester 1, Unpam Viktor
Editor: Mudofar
KRAKATAURADIO.COM, LABUAN - Perkembangan sosial berkaitan erat dengan keseharian seseorang. Manusia adalah makhluk sosial, tentunya setiap hari akan bersosialisasi dengan makhluk lainnya. Untuk itu, pencapaian perkembangan sosial menjadi perhatian penting bagi perkembangan anak.
Menurut (Femmi, 2015) perkembangan sosial merupakan perkembangan tingkah laku pada anak dimana anak diminta untuk menyesuaikan diri dengan aturan yang berlaku dalam lingkungan masyarakat.
Perkembangan sosial pada anak tumbuh dari hubungan anak dengan orang tua atau pengasuh di rumah. Tanpa disadari anak mulai belajar berinteraksi dengan orang di luar dirinya sendiri yaitu dengan orang-orang di sekitarnya.
Interaksi sosial kemudian diperluas, tidak hanya dengan keluarga dalam rumah namun mulai berinteraksi dengan tetangga dan tahapan selanjutnya ke sekolah.
Adapun faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial yaitu, pertama faktor keluarga. Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh proses perlakuan atau bimbingan orang tua terhadap anak dalam mengenal berbagai aspek kehidupan sosial, atau norma-norma kehidupan bermasyarakat serta mendorong dan memberikan contoh kepada anaknya bagaimana menerapkan norma-norma tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua, faktor lingkungan (nurture). Lingkungan merupakan faktor eksternal yang turut membentuk dan mempengaruhi perkembangan sosial anak. Contohnya lingkungan teman sebaya merupakan suatu kelompok yang baru, yang memiliki ciri norma kebiasaan yang jauh berbeda dengan apa yang ada dalam lingkungan keluarga.
Oleh karena itu, individu dituntut memiliki kemampuan pertama dan baru dalam menyesuaikan diri dan dapat dijadikannya dasar dalam hubungan sosial yang lebih luas menurut (Saleh, 2017).
Berbagai kasus sosial yang muncul di lingkungan sekolah terjadi pada seorang siswa SD di Tirtajaya, Karawang, diduga melakukan perundungan terhadap seorang siswi hingga akhirnya dipindahkan ke sekolah lain melalui musyawarah antara keluarga dan sekolah.
Perundungan terjadi pada 6 November 2025 dan pemindahan dilakukan sekitar seminggu kemudian. Pelaku awalnya meminta meminjam kipas mini namun ditolak, lalu melakukan tindakan yang menyebabkan korban terluka secara fisik dan psikis.
Dampak yang dialami korban tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga psikologis dan sosial. Korban berpotensi mengalami trauma, rasa takut, kecemasan, serta menurunnya kepercayaan diri. Selain itu, korban dapat menarik diri dari lingkungan sosial dan merasa tidak aman di sekolah.
Kondisi tersebut juga berdampak pada aspek akademik, seperti menurunnya konsentrasi dan motivasi belajar. Kasus ini menegaskan bahwa perundungan, sekecil apa pun pemicunya, dapat memberikan dampak besar terhadap perkembangan sosial dan emosional peserta didik.
Dalam mengatasi kasus perundungan di sekolah, guru memiliki peran penting sebagai pendidik dan pembimbing. Guru dapat mengembangkan kemampuan sosial anak dengan menyediakan lingkungan bermain yang memungkinkan anak berinteraksi dengan teman sebayanya. Ketersediaan alat permainan yang memadai sangat penting agar anak dapat bergiliran bermain tanpa menimbulkan konflik.
Guru dapat memberikan contoh atau model perilaku sosial yang baik seperti mengajukan izin dan menghargai keputusan kelompok. Guru juga perlu mendorong anak untuk berani mengambil keputusan sendiri, baik dalam kegiatan bermain bebas maupun kegiatan terstruktur.
Guru juga berperan penting dalam menanamkan sikap empati dan kepedulian sosial dengan memberikan teladan langsung dalam perilaku sehari-hari serta mendorong anak untuk saling membantu dan menghargai perasaan teman. Perundungan di sekolah dapat berdampak serius bagi perkembangan sosial dan psikologis peserta didik.
Oleh karena itu, peran guru sangat penting dalam menanamkan empati dan menciptakan lingkungan yang aman.
DAFTAR PUSTAKA
Nurmalitasari, Femmi. (2015). Perkembangan Sosial Emosi Pada Anak Usia Prasekolah.
Buletin Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Volume 23, No. 2, Desember 2015: 103–111 Issn: 0854-7108
Saleh, Yopa Taufik. (2017). Model Permainan Tradisional “Boy-Boyan” Untuk Meningkatkan Perkembangan Sosial Anak Sd. ELSE (Elementary School Education Journal): Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Sekolah Dasar Volume 1 Nomor 2b
Kaffa, Z., Neviyarni, I., & Map, M. A. P. (2021). Analisis Perkembangan Sosial Anak. Jurnal Pendidikan Tambusai, 5(2), 2612-2616.

Tidak ada komentar