Pertengahan Ramadan, Harga Ayam Potong di Pasar Tembus Rp 40 Ribu
![]() |
| Pedagang ayam potong di pasar baru Labuan, Kabupaten Pandeglang. |
KRAKATAURADIO.COM, LABUAN - Memasuki pertengahan bulan Ramadan 1447 H, sejumlah komoditas pangan di pasar tradisional di Kabupaten Pandeglang mengalami kenaikan, termasuk harga ayam potong yang kini tembus Rp 40.000 per kilogram.
Lonjakan harga ayam tersebut menjadi perhatian karena berdampak langsung pada daya beli masyarakat. Berdasarkan informasi pada Kamis (05/03), kenaikan harga ayam berlangsung bertahap sejak menjelang Ramadan. Hal ini karena tingkat konsumsi masyarakat cenderung meningkat.
Salah satu pedagang ayam potong di Pasar Labuan, Husen mengatakan, kenaikan harga sudah terjadi menjelang bulan Ramadan. Menurut dia, harga dalam kondisi normal biasanya berada di kisaran Rp 30.000 per kilogram. Namun, saat ini tembus Rp 40.000 atau naik Rp 10.000 dari harga sebelumnya.
“Harga ayam potong awal Ramadan ini naik jauh. Normalnya maksimal Rp30 ribu, sekarang Rp40 ribu. Faktornya karena dari mulai menjelang puasa naik terus bertahap,” kata dia.
Ia mengaku, kenaikan harga ini akibat pasokan yang mulai berkurang, sementara permintaan masyarakat cenderung meningkat. Meski begitu, lanjutnya, penjualan masih relatif stabil saat ini.
Para pedagang memprediksi harga ayam belum akan turun dalam waktu dekat. Dengan meningkatnya permintaan menjelang hari besar keagamaan, harga ayam dikhawatirkan tetap bertahan di level tinggi, bahkan berpotensi kembali naik hingga mendekati Hari Raya Idul Fitri.
“Lebaran bisa lebih (kenaikannya). Nyampe ke Rp 50 ribu,” ujarnya.
Baca: Andra Soni Pastikan Kesiapan Destinasi Jelang Lebaran Idul Fitri
Baca: Wagub Dimyati Sampaikan Rencana Revitalisasi Situs Syekh Asnawi Caringin
Di sisi lain, pembeli tidak memiliki banyak pilihan selain tetap membeli meski harga ayam tinggi. Salah satu warga, Putri mengaku tetap membeli daging ayam meski harganya naik. Menurut dia, ayam merupakan kebutuhan pokok rumah tangga yang sulit untuk dikurangi, apalagi saat ini memasuki pertengahan bulan Ramadan, terdapat tradisi ngupat qunutan.
“Memang naik, tapi mau tidak mau tetap beli karena kan ngupat itu sama opor ayam juga,” ucap dia.
Pembeli harus menyesuaikan pengeluaran demi memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga selama Ramadan.
“Keinginannya harganya pengen stabil lagi, jangan tinggi-tinggi. Namanya juga rakyat kecil, pengen harga ayam kembali normal,” imbuhnya. (Mudofar)

Tidak ada komentar