Eton Badak: Menjaga Identitas Pandeglang Lewat Kerajinan Miniatur Badak Kayu

Eton Badak, ditemui di Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Kamis (18/06/2026).

KRAKATAURADIO.COM, CARITA - Di tengah arus modernisasi, Endang Sutiyoso (52), atau yang akrab disapa Eton Badak, tetap setia menekuni profesi sebagai perajin miniatur badak dari kayu. Sejak tahun 2005, Eton telah mendedikasikan dirinya untuk menghasilkan karya seni bernilai tinggi yang menjadi salah satu ikon daerah Kabupaten Pandeglang.

 

Ditemui di acara Pesisir Berdaya Lestari, di Pantai Ketapang, Desa Sukarame, Kecamatan Carita, Eton menegaskan bahwa usaha yang ia jalankan sangat memperhatikan kelestarian alam. Ia memanfaatkan limbah kayu untuk bahan baku karyanya, sehingga tidak perlu melakukan penebangan pohon baru.

 

“Biarkan Pandeglang Banten tetap hijau. Tanpa menebang pohon pun, kami masih bisa berkarya untuk ikon daerah,” kata dia, Kamis (18/06).

 

Dalam memproduksi satu unit miniatur badak, waktu yang dibutuhkan bervariasi tergantung ukuran dan detail pesanan. Dalam satu hari, Eton mampu menyelesaikan antara satu hingga dua karya.

 

Untuk harga, lanjutnya, bervariasi mulai dari ukuran kecil ia memasang tarif Rp 200 ribu sampai terbesar sesuai ukuran. Harga tersebut melihat dari pesanan dan kesulitan dalam memahat ukiran.

 

Meskipun saat ini ia masih mengandalkan pemasaran manual melalui komunitas dan rekanan, Eton mengaku bahwa pesanan terbanyak justru datang dari kalangan instansi kepolisian.

 

Baca: PT Surveyor Indonesia dan UMN Wujudkan Pesisir Berdaya Lestari di Pantai Ketapang

 

Baca: Kuota Siswa SD Sekolah Rakyat di Pandeglang Belum Tercapai

 

Eton memiliki harapan besar agar setiap instansi pemerintahan, mulai dari OPD hingga SKPD di lingkungan Kabupaten Pandeglang, dapat turut serta mendukung dengan memajang miniatur badak karya perajin lokal di meja kantor mereka.

 

“Dalam hal ini pemerintah saya harap untuk hadir. Artinya ada harapan saya untuk kedepan itu bagaimana caranya ini miniatur badak ini ada di meja masing-masing. Artinya setiap OPD atau perusahaan-perusahaan yang ada di wilayah kabupaten Pandeglang ada badaknya,” ungkapnya.

 

Eton mengungkapkan keprihatinannya terhadap eksistensi perajin badak kayu di Pandeglang. Saat ini, hanya tersisa dua orang perajin yang masih aktif, termasuk dirinya.

 

Ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih, terutama dalam hal promosi agar karya mereka bisa lebih dikenal luas.

 

“Ini adalah ajang promosi bahwa kita adalah Kota Badak. Kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi,” tutupnya. (Mudofar)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.