Kuota Siswa SD Sekolah Rakyat di Pandeglang Belum Tercapai

Ketua Tim Pendamping (Katim) PKH Kabupaten Pandeglang, Ahmad Suhari.

KRAKATAURADIO.COM, PANDEGLANG - Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Pandeglang bersama pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) terus menggenjot implementasi program Sekolah Rakyat (SR) untuk memastikan anak-anak usia sekolah mendapatkan akses pendidikan yang layak.

 

Sekretaris Dinsos Kabupaten Pandeglang, Nanan Yoga mengatakan, program SR merupakan terobosan untuk mendukung pendidikan berbasis asrama bagi masyarakat, khususnya dari keluarga prasejahtera.

 

Ia menuturkan, hingga saat ini, progres pembangunan gedung SR terus menunjukkan progres positif.

 

“Kemarin kami baru saja memonitor pelaksanaan pembangunan yang dilaksanakan di Desa Koranji, Kecamatan Cadasari. Pembangunannya sudah memenuhi target dan sekarang sudah mencapai di atas kisaran 75 persen. Insyaallah optimis. Minggu lalu Pak Gubernur juga ikut memantau, dan kemarin Ibu Bupati pun hadir langsung untuk melihat progresnya,” kata dia, ditemui di Kecamatan Carita, Rabu (17/06).

 

Meski begitu, tantangan saat ini yaitu pemenuhan kuota siswa SR untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) yang belum tercapai.

 

Sampai saat ini, kuota untuk SMP dan SMA sudah terpenuhi, bahkan sudah lebih. Kita masih kekurangan untuk kuota SD, dan kami masih diberikan waktu sampai akhir bulan ini untuk menjaring siswa tingkat SD,” terangnya.

 

Pihaknya mengaku optimistis target program akan terpenuhi dengan melakukan koordinasi intensif bersama para pemangku kepentingan, termasuk para camat di wilayah tersebut.

 

Baca: Bupati Dorong Peningkatan Kapasitas Pendamping PKH untuk Penanggulangan Kemiskinan

 

Baca: Pendamping PKH Targetkan 1.000 Siswa dari Keluarga Miskin Ekstrem Masuk SR

 

Sementara Ketua Tim Pendamping (Katim) PKH Kabupaten Pandeglang, Ahmad Suhari menjelaskan, target total peserta didik SR di Pandeglang adalah 270 siswa, yang terbagi rata masing-masing 90 siswa untuk jenjang SD, SMP, dan SMA.

 

Pria yang akrab disapa Ucu Sadewa ini menyebutkan, kuota untuk jenjang SMP dan SMA sudah terpenuhi, bahkan melebihi target. Namun, untuk jenjang SD, terdapat tantangan yang cukup unik, yakni masih banyaknya orang tua yang belum mengizinkan anaknya untuk diasramakan.

 

“Masih banyak orang tua yang masih belum bisa mengizinkan di sekolah rakyat karena basis asrama. Karena memang tidak dipungkiri usia SD ini, namanya orang tua ya, ke anak ini masih relatif usia muda, ada rasa sayang, kanyaah gitu ya. Beda dengan SMP-SMA, mungkin sudah bisa mandiri,” ungkap dia.

 

Untuk mengatasi kendala tersebut, tim pendamping melakukan pendekatan secara persuasif kepada masyarakat, khususnya di wilayah-wilayah yang menjadi sasaran utama SR.

 

Selain itu, program ini juga didukung dengan penguatan kompetensi para pendamping agar lebih efektif dalam memberikan edukasi kepada orang tua terkait pentingnya pendidikan bagi masa depan anak mereka.

 

Ia menekankan bahwa program SR telah dirancang untuk meminimalisir beban ekonomi orang tua.

 

“Di SR itu posisinya serba gratis. Dari mulai pakaian, sepatu, bahkan yang lainnya juga gratis. Dan tingkat kedisiplinannya pun memang terjaga gitu,” tandasnya. (Mudofar)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.