Hadapi Musim Kemarau, 5 Desa di Kecamatan Patia Berpotensi Krisis Air Bersih

Camat Patia, Endan Permana.

KRAKATAURADIO.COM, PATIA - Pemerintah Kecamatan Patia mulai memetakan wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan menjelang puncak musim kemarau yang diprediksi berlangsung sejak Juli hingga September. Setidaknya, ada lima desa di Kecamatan Patia yang rawan krisis air bersih.

 

Camat Patia, Endan Permana mengatakan, kelima desa tersebut meliputi Desa Idaman, Ciawi, Surianeun, Pasirgadung, dan Turus.

 

Kalau di Patia sendiri sekitar ada 5 desa yang berpotensi kekeringan. Di antaranya Idaman, Ciawi, Surianeun walaupun posisinya di bawah itu sangat berpotensi kekeringan, lalu Pasirgadung dan turus,” kata dia, Kamis (15/07).

 

Guna mengantisipasi dampak yang lebih meluas, pihak kecamatan aktif melakukan monitoring ke tingkat desa. Endan mengaku telah mewanti-wanti para kepala desa di wilayahnya agar segera melapor jika warganya mulai kesulitan mendapatkan air bersih.

 

Kalau perintah khusus secara tertulis belum ada, cuma kita sudah mewanti-wanti kepada kepala desa. Jika ada warga yang terdampak kekeringan atau butuh air bersih, segera berkoordinasi dengan pihak kecamatan, terangnya.

 

Baca: TMMD ke-129 di Kecamatan Patia Resmi Dimulai

 

Baca: Warga Sambut Baik Rekonstruksi Ruas Jalan Teluknaga–Dadap oleh Pemprov Banten

 

Pihaknya juga memastikan sinergi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBDPK) berjalan dengan baik untuk menyuplai bantuan air bersih jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Apalagi dirinya pernah bertugas di BPBDPK untuk mempermudah komunikasi antar-lembaga tersebut.

 

Bukan sekadar penanganan darurat, Pemerintah Kecamatan Patia bersama BPBDPK Kabupaten maupun Provinsi Banten tengah menyiapkan solusi jangka panjang melalui program pengeboran sarana air bersih. Saat ini, pendataan titik-titik lokasi pengeboran sudah mulai dilakukan.

 

Terkait ketersediaan lahan untuk fasilitas tersebut, Endan menyerahkan sepenuhnya mekanisme hibah tanah kepada kebijakan kepala desa setempat.

 

Kalau masalah tanah, kita menyerahkan ke kepala desa masing-masing yang punya wilayah. Pihak desa yang mencari titik lokasi yang aman dan tidak diganggu gugat oleh pihak lain,” ucap dia.

 

Selain krisis air bersih untuk konsumsi harian, musim kemarau berkepanjangan ini juga membayangi sektor pertanian di Patia. Menanggapi potensi gagal panen (puso) yang menghantui para petani, Endan menyatakan telah menyiapkan langkah mitigasi.

 

Pihak kecamatan akan memetakan areal persawahan yang kritis dan segera berkoordinasi dengan instansi teknis terkait untuk bantuan sarana pengairan.

 

Pihaknya mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat agar tidak panik namun tetap waspada. Ia meminta warga maupun perangkat desa tidak sungkan untuk terus menjalin komunikasi dan melaporkan setiap perkembangan situasi di lapangan kepada pihak kecamatan.

 

Senada dengan Camat, Kepala Desa Idaman, Ilman mengaku dalam mengantisipasi kekeringan, pihaknya terus berkoordinasi dengan stakeholder terkait. Menurut dia, krisis air bersih selalu dialami desanya saat musim kemarau.

 

“Kami di tingkat desa siap bersinergi dan mengawal jika ada program pembangunan jaringan air. Warga juga terus siap siaga dan melaporkan ke desa jika membutuhkan suplay air bersih,” tandasnya. (Mudofar)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.