Perjuangan Pedagang Bendera Musiman di Tengah Gempuran Pasar Online

Salah satu penjual bendera musiman asal Cirebon, Indra (35), ditemui di lapaknya di Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Selasa (04/08/2026).

KRAKATAURADIO.COM, LABUAN - Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia (RI), kondisi di sekitar jalan protokol selalu dipadati oleh para pedagang bendera musiman. Salah satunya Indra (35), seorang perantau asal Cirebon, Jawa Barat, menjadi salah satu orang yang masih gigih dalam mencari nafkah musiman ini.

 

Tahun ini, Indra dan kelompoknya mulai menggelar lapak dagangan mereka sejak akhir Juli. Dibandingkan dengan musim tahun lalu yang dirasa cukup sepi dan lesu, tahun ini menunjukkan tren pemulihan yang sangat positif.

 

Diperkirakan terdapat peningkatan omset penjualan hingga 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun musim puncak penjualan baru akan mencapai titik tertinggal pada rentang tanggal 5 hingga 10 Agustus.

 

Ya, masih mending tahun sekarang kayaknya mah daripada tahun kemarin. Kalau tahun kemarin sepi. Kalau tahun sekarang udah ada, udah dapat gitu lah. Kalau ini kan belum selesai ya. Paling 50 persen nyampe,” kata dia saat ditemui di lapaknya di Kecamatan Labuan, Pandeglang, Selasa (04/08).

 

Kendati mengalami peningkatan, Indra mengaku tantangan yang dihadapi pedagang konvensional di era digital semakin kompleks. Gempuran pasar online diakui menjadi faktor utama yang meredupkan potensi maksimal pendapatan mereka dalam beberapa tahun terakhir.

 

Kalah sama online. Cuma yang namanya rezeki juga ada yang ngatur sih. Kadang-kadang kan orang ada yang beli langsung gitu. Jadi tetap bertahan dengan cara berjualan secara manual,” ungkapnya.

 

Baca: BKC Labuan Siap Ikuti International Open Senkaido Karate Championship 2026

 

Baca: Oktober 2026, Produk UMKM Harus Bersertifikat Halal

 

Meski demikian, strategi mereka tetap bertumpu pada interaksi langsung. Berjualan secara berkelompok di titik strategis memberikan ciri tersendiri bagi pedagang musiman yang menetap selama kurang lebih setengah bulan penuh di Labuan.

 

Adapun, untuk harga bendera dan atribut kemerdekaan yang dijual, mulai dari Rp 25 ribu sampai ratusan ribu.

 

Kalau kita termurah ukuran 90 itu 25 (ribu). Kalau yang bendera yang pusaka itu hampir 100-an. Umbul-umbul itu 35 sampai dengan sampai ada yang 50, 60. Kalau yang meteran ada yang Rp 250 ada. Kalau ada yang paling murah itu Rp 80 ribu,” terang dia.

 

Ia berharap dan mengimbau agar masyarakat tetap melestarikan tradisi membeli secara langsung di lapak fisik daripada sepenuhnya beralih ke ranah digital.

 

“Harapannya sih untuk para warga sini ya jangan beli online gitu, pengennya pengen beli langsung, karena barang langsung kan kita bisa lihat bagus atau enggaknya,” tutupnya. (Mudofar)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.