Dinkes Pandeglang Gencarkan Screening TBC dan CKG di 297 Titik, Sasar 29.700 Warga

Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digelar Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pandeglang, melalui Puskesmas, di pantai Ceria, Desa Cigondang, Kecamatan Labuan, Minggu (09/08/2026).

KRAKATAURADIO.COM, PANDEGLANG - Dalam upaya menemukan kasus tuberkulosis (TBC) secara lebih dini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) gencar melakukan screening TBC terintegrasi dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) digelar di 297 titik yang tersebar di seluruh wilayah Pandeglang.

 

Kepala Dinkes Pandeglang, Eniyati melalui Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Dian Handayani mengatakan, kegiatan tersebut mulai dilaksanakan sejak bulan Agustus hingga November 2026 mendatang. Program ini langsung dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI.

 

Setiap titik ditargetkan melayani sekitar 100 orang. Dengan demikian, jumlah sasaran screening dalam kegiatan tersebut mencapai sekitar 29.700 warga.

 

“Se Pandeglang 297 titik yang pelaksanaannya sekitar 4 bulanan. Kita sudah berjalan dari bulan Agustus,” kata dia, Selasa (22/09).

 

Dian menerangkan, screening ini memberikan perhatian khusus kepada kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terkena TBC atau warga yang memiliki kontak erat.

 

“Screening ini dikhususkan untuk kontak erat sebetulnya karena tracing itu pelacakan. Jadi kalau misalkan ada orang dengan TBC, itu semua kontak rumah atau kontak eratnya diperiksa,” terangnya.

 

Dian menjelaskan, jika dalam screening ditemukan gejala, maka akan dilanjutkan dengan rontgen. Dalam kondisi tersebut, pemeriksaan rontgen diperlukan untuk membantu mendeteksi kemungkinan adanya infeksi TBC.

 

Dari pemeriksaan rontgen yang positif juga harus disertai dengan pemeriksaan dahak. Jadi di kasih pot dahak tuh. Kalau yang bisa mengeluarkan dahak saat itu langsung di tampung petugas tapi kalau misalkan tidak bisa mengeluarkan dahak boleh pot dahaknya di bawa pulang nanti silakan diserahkan ke kader,” jelas dia.

 

Baca: Status Gunung Anak Krakatau Turun Jadi Level II atau Waspada

 

Baca: PPP Banten Kukuhkan Pengurus DPW dan DPC se-Banten Menuju Pemilu 2029

 

Pelaksanaan screening sengaja tidak hanya dipusatkan di puskesmas. Dinkes bersama Puskesmas di seluruh Kecamatan mendekatkan layanan ke lingkungan tempat tinggal warga, seperti balai warga, posyandu, maupun lokasi lain yang mudah dijangkau masyarakat.

 

Untuk memenuhi target tersebut, Dinkes Pandeglang telah meminta Puskesmas melakukan pemetaan dan mengundang warga yang masuk dalam kelompok sasaran. Data pasien TBC, kontak erat, penderita diabetes, maupun warga yang dicurigai mengalami TBC menjadi dasar penentuan sasaran.

 

Dengan pola jemput bola tersebut, warga diharapkan tidak terkendala jarak untuk mendapatkan pemeriksaan. Terlebih, satu lokasi screening ditargetkan dapat menjangkau warga di wilayah sekitar.

 

Jika dari hasil screening ditemukan warga yang terindikasi positif TBC, penanganan akan dilanjutkan melalui fasilitas kesehatan. Pengobatan dapat dilakukan di puskesmas secara gratis. Pasien juga akan mendapatkan pemantauan selama menjalani pengobatan.

 

Baca: Wagub Dimyati Ajak Masyarakat Doakan Banten Dijauhkan dari Bencana

 

Menurut dia, pengobatan TBC membutuhkan kedisiplinan pasien karena obat harus dikonsumsi secara rutin. Dian menyebut, pengobatan umumnya berlangsung minimal enam bulan.

 

“Betul, minimal enam bulan. Evaluasi bisa sembilan atau dua belas bulan,” ungkap dia.

 

Upaya peningkatan penemuan kasus TBC di Pandeglang masih menjadi perhatian Dinkes. Target penemuan kasus TBC tahun 2026 sebanyak 5.422 orang. Dari target tersebut, yang sudah ditemukan sampai dengan Minggu kedua bulan September sebanyak 3.849 orang atau 71 persen. Sementara target penemuan kasus TBC nasional minimal 90 persen.

 

Melalui screening yang dilakukan secara masif hingga bulan November, Dinkes Pandeglang berharap semakin banyak kasus TBC dapat ditemukan lebih awal sehingga segera mendapatkan pengobatan dan risiko penularan di masyarakat dapat ditekan.

 

“Diharapkan setelah ditemukan semua sehingga angka penderita TBC bisa di tekan sampai dengan eliminasi TBC di 2030,” pungkasnya.

Diberdayakan oleh Blogger.