Status Aktivitas GAK per 10 September 2026: Level III (Siaga)
| Pantauan Gunung Anak Krakatau (GAK) di pos pemantau GAK, Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Kamis (10/09/2026). |
KRAKATAURADIO.COM, LABUAN - Ringkasan aktivitas vulkanik episode erupsi menerus yang sempat berlangsung selama 25 jam pada periode 4 hingga 6 September 2026 telah berakhir dan kini berganti menjadi karakteristik erupsi Strombolian.
Erupsi terakhir gunung yang terletak di perairan Selat Sunda ini terjadi pada Kamis 10 September 2026 pukul 09:10 WIB. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 47 mm dan durasi ± 17 detik.
Adapun, dalam laporan perkembangan yang disusun Kepala Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Lana Saria seperti dikutip dari WhatsApp Grup (WAG) Siaga Wisata Balawista, GAK masih berada pada status level III (siaga) dengan rekomendasi masyarakat, pengunjung, wisatawan, serta pendaki tidak mendekati GAK atau beraktivitas dalam radius 3 km dari kawah aktif.
Adapun, dalam laporan yang disusun terungkap bahwa secara umum, data kegempaan menunjukkan adanya tren penurunan aktivitas vulkanik pasca-erupsi menerus, meski probabilitas letusan lanjutan dalam beberapa waktu ke depan masih dinilai tinggi.
Poin-poin utama pemantauan, di antaranya pengamatan visual: Cuaca di sekitar gunung bervariasi dari cerah hingga mendung dengan angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara dan barat laut. Suhu udara berkisar antara 26°–31°C, sementara tinggi kolom erupsi tidak teramati secara visual.
“Aktivitas Instrumental: Terekam 1 kali gempa erupsi, 6 kali gempa hembusan, 3 kali gempa low frequency, 5 kali gempa hybrid/fase banyak, gempa tremor menerus, 1 kali gempa vulkanik dangkal/dalam, serta 3 kali gempa tektonik jauh. Nilai RSAM berfluktuatif rendah dan data tiltmeter menunjukkan pola mendatar yang konstan,” tulis laporan tersebut.
Baca: Cecep Bahrul Terpilih Aklamasi sebagai Ketua IKA-PMII Pandeglang Periode 2026-2031
Baca: Pencarian 5 Jurnalis Diperluas, Polda Banten Kerahkan 7 Kapal di 5 Titik
Terkait potensi ancaman meliputi lontaran batu pijar, hujan abu lebat, serta potensi aliran lava jika erupsi menerus kembali terjadi.
“Warga yang terdampak abu vulkanik diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan dan mengenakan masker guna mencegah gangguan pernapasan,” terang laporan.
Masyarakat di wilayah pesisir Provinsi Banten dan Lampung juga diminta tetap tenang, tidak mudah percaya pada isu hoaks terkait potensi tsunami akibat erupsi, serta tetap berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
Informasi resmi dan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dapat terus dipantau melalui laman resmi MAGMA Indonesia di https://magma.esdm.go.id atau website Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). (Mudofar)