Siaran Pers: Dari Sampah Menjadi Kisah, Mengolah Plastik Jadi Cerita di Tina Sagara Ka Sagala
![]() |
| Penampilan acara Tina Sagara ka Sagala, di lapangan batako, Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Rabu (10/09/2025) malam. |
Fikri Jupri
Koordinator Rehabilitasi Teluk dan Partner Lokal Kegiatan Tina Sagara ka Sagala
Editor : Mudofar
KRAKATAURADIO.COM, LABUAN - Arak-arakan boneka penuh warna bergerak mengikuti alunan musik yang diiringi gelak tawa antusias warga saat mengikuti para aktor dan penari Tina Sagara Ka Sagala: Dari Laut untuk Segala mengelilingi pelelangan ikan Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, pada Rabu, 10 September 2025. Para aktor membawa wayang warna-warni yang gemerlap ditimpa cahaya, boneka ikan dan ubur-ubur yang terbuat dari kresek, serta seekor penyu raksasa yang 'berlabuh' selama 8 sampai 10 September 2025.
Semua karya itu memenuhi UPTD Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Labuan, yang selama tiga hari berubah menjadi galeri sementara tempat memamerkan karya seni berbahan plastik berikut karya seniman difabel dari Special Needs Artivity.
Pameran dan arak-arakan tersebut merupakan salah satu momen puncak perjalanan Tina Sagara Ka Sagala, sebuah gerakan seni lingkungan yang diinisiasi Special Needs Artivity (SNA), komunitas yang dikenal sebagai ruang seni inklusif bagi teman-teman difabel. Tahun ini, mereka memperluas cakupan inklusivitas dengan merangkul masyarakat pesisir yang terpinggirkan dan harus menanggung dampak pembangunan, salah satunya persoalan limbah plastik yang terus menggunung di Teluk Labuan.
Karya-karya ini sejatinya berawal dari loka karya yang berlangsung di TPS3R Desa Teluk, Labuan, pada Februari lalu. Selama sepuluh hari, warga setempat, pegiat lingkungan, hingga teman-teman difabel belajar memilah, mencacah, dan mengolah sampah plastik bersama narasumber Untung Sugiyarto dari GudRND Jakarta dan Sopyan Triadmaja dari Stuffo Labs. Dari mesin pengolah plastik sederhana, lahirlah bahan-bahan baru: potongan, lembaran, hingga filamen yang bisa dicetak ulang.
“Awalnya peserta hanya mencoba membuat dompet dan tas dari plastik bekas. Tapi ketika ide itu berkembang, mereka ingin lebih jauh: menjadikan plastik sebagai medium bercerita,” kata Fahmi Abdul Aziz, salah satu penggagas program.
Dari situ lahir gagasan membuat boneka biota laut, wayang plastik, dan instrumen musik berbahan daur ulang, semua yang akhirnya tampil dalam pameran dan pertunjukan di Teluk Labuan.
Setiap boneka dan alat musik yang dihasilkan mengandung pesan ekologis. Penyu dari plastik, misalnya, dibuat untuk mengingatkan publik bahwa Teluk Labuan dahulu adalah tempat penyu bertelur. Kini, yang 'berlabuh' di pesisir justru tumpukan sampah.
“Cerita-cerita dari warga itulah yang mendorong kami untuk menghadirkannya di atas panggung,” tutur Khairul Hakim, Ketua SNA.
Dengan cara ini, SNA menghubungkan dua hal yang sering terpisah: persoalan lingkungan yang kompleks dan ekspresi seni yang inklusif. Boneka, wayang plastik, dan musik daur ulang menjadi jembatan untuk mengajak masyarakat melihat kembali laut bukan hanya sebagai tempat sampah terakhir, tetapi sebagai ruang hidup yang layak dirayakan.

Tidak ada komentar