Jemaah Haji Asal Pandeglang Bagikan Cerita di Tanah Suci: Pentingnya Fisik Prima di Tengah Cuaca Ekstrem

Jemaah haji asal Kecamatan Carita, Kabupaten Pandelang, Sandi Wyasa.

KRAKATAURADIO.COM, PANDEGLANG - Pelaksanaan ibadah haji tahun 2026 memberikan kesan dan pengalaman mendalam bagi para jemaah asal Indonesia, termasuk dari Kabupaten Pandeglang. Salah satu jemaah asal Kecamatan Carita Sandi Wyasa, membagikan kisah perjuangannya langsung dari tanah suci melalui sambungan telepon dalam siaran Krakatau Radio.

 

Sandi mengungkapkan, secara keseluruhan ibadah haji tahun ini berjalan dengan lancar dan luar biasa, meskipun para jemaah harus menghadapi tantangan fisik yang tidak ringan.

 

Menurut Kepala Desa Sukajadi ini, perjalanan udara dari tanah air menuju Arab Saudi memakan waktu sekitar 9 jam. Setelah mendarat, fokus utama para jemaah langsung tertuju pada persiapan mental dan fisik untuk menghadapi seluruh rangkaian rukun haji.

 

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh Jemaah haji tahun ini adalah cuaca ekstrem. Ia mengaku, suhu udara di tanah suci saat siang hari berkisar antara 42°C hingga 47°C. Sementara pada malam hari, suhu udara masih tergolong panas bagi orang Indonesia, yakni sekitar 35°C.

 

“Fisik dan mental yang harus dipersiapkan, karena fisik yang luar biasa terkuras. Kita satu kali lempar jumrah itu kurang lebih kita berjalan bolak-balik itu 8 kilometer di bawah terik matahari dan di tengah berdesak-desakannya jemaah, kata dia.

 

Menghadapi situasi panas tersebut, ia mengaku rutin minum air mineral dan mengkonsumsi vitamin agar staminanya tetap terjaga.

 

Sandi juga memberikan catatan mengenai kondisi fasilitas tenda di Mina yang dinilai kurang layak karena kapasitas yang terlalu padat. Kondisi yang berdesakan tersebut sangat menguji stamina para jemaah.

 

Meski begitu, tim medis dari PPIH Kementerian Haji dan Umroh (Kemenhaj) selalu siaga membantu para jemaah dalam menunaikan ibadah di tanah suci.

 

Pemerintah tahun ini menerapkan skema Murur demi keselamatan jemaah. Melalui skema ini, jemaah haji yang masuk kategori lansia, disabilitas, atau sedang sakit tidak menginap di Muzdalifah.

 

“Jadi dari Arafah langsung ke Mina untuk beristirahat, sementara ibadah lempar jumrah untuk lansia atau yang sakit itu bisa dibadalkan oleh ketua regu atau ketua kloternya,” terangnya.

 

Baca: Gubernur Ajak Perkuat Komitmen Kebangsaan di Peringatan Hari Lahir Pancasila

 

Baca: Revitalisasi SMPS IT Nurul Yaqin Bawa Angin Segar dan Disambut Baik Warga

 

Setelah menyelesaikan seluruh rukun utama termasuk Tawaf Ifadah, Sandi mengabarkan bahwa saat ini para jemaah sedang bersiap untuk melaksanakan ibadah sunnah, umrah sunnah, serta melakukan ziaran (city tour) ke beberapa tempat bersejarah seperti Jabal Tsur, Jabal Rahmah, Laut Merah, dan Gua Hira sebelum jadwal kepulangan.

 

Ia bersama dengan istrinya yang berangkat sebagai jemaah mandiri menyarankan kepada calon jemaah haji di masa depan agar sebaiknya bergabung dengan yayasan atau Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) jika memiliki anggaran lebih. Menurutnya, bimbingan dari yayasan akan membuat ibadah lebih terperinci, terbantu, dan terorganisir dibandingkan berjalan sendiri.

 

Di akhir wawancara, Sandi menyampaikan rasa syukur dan meminta doa dari seluruh masyarakat Kabupaten Pandeglang agar Kloter 17 khususnya, dan seluruh jemaah Pandeglang umumnya, dapat kembali ke tanah air dengan selamat.

 

“Kami pun minta doa kepada masyarakat semuanya mudah-mudahan kami semua bisa kembali bisa kembali ke Indonesia dengan selamat, sehat, dan tidak kurang satu apapun,” imbuh dia.

 

Sesuai jadwal, pemulangan kloter pertama jemaah haji akan dilakukan pada 1 Juni 2026, sementara rombongan Kloter 17 dijadwalkan bertolak dari Makkah pada 23 Juni 2026 dan tiba di Indonesia pada 24 Juni 2026, di mana penjemputan seluruh jemaah dipusatkan di Pendopo Kabupaten Pandeglang. (Mudofar)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.