300 Personel SAR Dikerahkan dalam Pencarian Jurnalis dan Warga yang Hilang Kontak
![]() |
| Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii saat memberi keterangan kepada awak media, di Posko SAR gabungan Pantai Marina, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, Kamis (10/09/2026). |
KRAKATAURADIO.COM, CARITA - Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap lima orang jurnalis dan tiga warga yang dilaporkan hilang kontak saat meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) mengerahkan lebih dari 300 personel SAR gabungan.
Hal itu disampaikan Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii saat memberi keterangan kepada awak media, di Posko SAR gabungan Pantai Marina, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Kamis (10/09/2026).
Syafii mengatakan, perluasan area pencarian dilakukan secara bertahap berdasarkan pemetaan wilayah. Pada hari pertama, pencarian difokuskan pada tiga sektor. Di hari kedua berkembang menjadi lima sektor dan pada hari ketiga diperluas menjadi enam sektor.
“Awalnya hari pertama kita menggelar di 3 sektor kemudian hari kedua kita beroperasi di lima sektor dan hari ini kita melaksanakan operasi dan kembangkan di enam sektor melibatkan sebelas kapal dari kapal KRI kemudian kepolisian, basarnas, dibantu oleh kapal-kapal potensi yang ada, dengan jumlah personel lebih dari 300 personel inti,” kata dia.
Operasi SAR gabungan kini memasuki hari keempat pencarian pada Jumat, 11 September 2026. Tim SAR gabungan resmi memperlebar area penyisiran menjadi enam sektor dan melibatkan lebih banyak pihak dan instansi.
Ia menerangkan, operasi skala besar ini melibatkan sinergi dari Basarnas, Kantor SAR Banten, Kantor SAR Lampung, TNI-Polri, hingga pemerintah daerah.
“Saya yakinkan bahwa pemerintah memberikan perhatian khusus untuk berupaya segera menemukan korban dan bisa kita evakuasi dalam kondisi selamat,” ujarnya.
Baca: Hari Ketiga Pencarian, Tim Gabungan Perluas Area ke Pulau Panaitan
Baca: Status Aktivitas GAK per 10 September 2026: Level III (Siaga)
Dalam menentukan pola operasi, Basarnas mengacu pada standar Basarnas Command Center (BCC) dengan memanfaatkan titik Last Known Position (LKP) atau lokasi terakhir korban terdeteksi.
“Pada saat informasi terakhir kita dapat, disitulah start pertama kita membuat pola operasi. Tentunya informasi dari BMKG, dari PVMBG ini menjadi dasar kita merencanakan operasi,” terang dia.
“Kemudian dalam berkembangnya setiap informasi apapun akan ditampung di posko ini dan akan dilaksanakan rapat koordinasi,” sambungnya.
Dalam operasi pencarian kali ini juga pemerintah menggunakan bantuan helikopter untuk memantau di udara.
Kendati demikian, Syafii menegaskan bahwa keselamatan tim penyelamat tetap menjadi prioritas utama di tengah kondisi alam Selat Sunda yang dinamis.
“Yang bisa dilakukan pasti unsur laut dan unsur udara. Namun operasi yang kita laksanakan tentuya harus mengikuti rules, artinya operasi itu bisa dilaksanakan dengan batasan-batasan safety. Jadi kita akan melaksanakan operasi dengan jaminan safety,” tandasnya. (Mudofar)
