Jenazah Surakman Tiba di Kampung Halaman, Tangis Keluarga Pecah
![]() |
| Kedatangan peti jenazah Surakman (60) tiba di Masjid Raya Al Khusaeni, Kampung Pagedongan, Desa Sukajadi, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Kamis (24/09/2026). |
KRAKATAURADIO.COM, CARITA - Jenazah Surakman (60), Anak Buah Kapal (ABK) Arupadhatu I yang sempat hilang kontak di perairan Selat Sunda, telah tiba di kampung halamannya, di Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Kamis (24/09/2026). Sebelumnya kapal yang mengangkut delapan penumpang itu dinyatakan hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) sejak Senin (07/09/2026) lalu.
Berdasarkan pantauan di Masjid Agung Al Khusaeni, Kampung Pagedongan, Desa Sukajadi, Kecamatan Carita, peti jenazah tiba sekitar pukul 10.35 WIB.
Mobil Jenazah RS Bhayangkara Polda Banten yang membawa korban kemudian parkir di sebelah pintu masuk Masjid.
Pihak keluarga tak kuasa menahan tangis ketika peti jenazah Surakman dikeluarkan dari mobil jenazah dan dibawa ke dalam Masjid untuk disalatkan.
Keluarga alamarhum berkumpul di area Masjid untuk melihat secara langsung. Jenazah Surakman kemudian disalatkan. Biddokkes Polda Banten kemudian menyerahkan jenazah korban kepada keluarga.
Prosesi serah terima melibatkan Kapolres Pandeglang, AKBP Sonny Harsono, anak korban Yayat Suryadi, serta Kabiddokkes DVI Polda Banten, Kombes Pol I Gusti Gede Dharma Arimbawa.
Baca: Tekan Pengangguran, Polda Banten Gandeng Dunia Usaha Lewat Program Poliran
Baca: Jasad yang Ditemukan di Pulau Enggano Adalah ABK Kapal Rombongan Jurnalis yang Hilang Kontak
Salah satu tetangga Surakman, Uding mengatakan, korban dikenal sebagai orang baik dan pendiam.
“Almarhum adalah pribadi yang humble, tidak banyak berkomunikasi. Beliau kalau bermasyarakat cukup baik terus tidak pernah berlebihan. Sosok beliau sangat bersahaja terus kearifan lokal dengan masyarakat cukup baik. Mudah-mudahan jadi sebuah ladang amal buat beliau. Jadi beliau itu kata orang sunda teu aya pihewaeuna (tidak ada hal yang membuat benci,red),” kata dia.
Menurut Uding, Surakman merupakan tulang punggung keluarga. Apalagi selama ini almarhum juga mengurus keluarganya yang tunanetra.
“Makanya ini mungkin Surakman itu kan salah satu tulang punggung dari keluarga. Terlebih adiknya te Nana itu kan tunanetra jadi ini juga separuh nafas hilang ya, karena dia yang menghidupi secara kehidupan duniawinya,” terangnya.
Adapun, almarhum Surakman dimakamkan di TPU Kidemang, Desa Carita, tidak jauh dari kediaman korban. Surakman menjadi satu-satunya dari delapan orang di Arupadhatu I yang berhasil ditemukan. Hingga kini, tujuh orang lainnya masih belum ditemukan. (Mudofar)
