Buka Akses Pendidikan dan Entaskan Angka Putus Sekolah, LPPM Untirta dan PKBM Daguina Serah Terima Ijazah di PHMQ

Kegiatan serah terima ijazah oleh LPPM Untirta dan PKBM Daguina kepada santri di Pondok Pesantren Huffadz Manbaul Qur'an (PHMQ), di Kampung Sukahati, Desa Kalanganyar, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Senin (28/09/2026).

KRAKATAURADIO.COM, LABUAN - Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Daguina Kota Serang kembali memperkuat komitmennya dalam dunia pendidikan melalui kegiatan Perjanjian Kerjasama ke-II dan Serah Terima Ijazah Program Bantuan Pendidikan Sekolah Kesetaraan Paket A/SD, Paket B/SMP, dan Paket C/SMA Gratis.

 

Acara ini diselenggarakan di Pondok Pesantren Huffadz Manbaul Qur'an (PHMQ) Sukahati, Desa Kalanganyar, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Senin (28/09/2026).

 

Kegiatan tersebut mengusung tema utama: "Membuka Akses Pendidikan, Mengentaskan Angka Putus Sekolah dan Meraih Masa Depan", sebagai wujud nyata program pengabdian berdampak yang mendukung akses pendidikan kesetaraan bagi para santri dan masyarakat luas.

 

Program ini dihadiri oleh pimpinan lembaga, para pengajar, serta puluhan santri yang antusias mengikuti rangkaian acara. Pimpinan PKBM Daguina, Dr. Yoma Hatima, M.Pd, menekankan urgensi pendidikan kesetaraan bagi kalangan santri.

 

Menurut dia, kerja sama ini merupakan bentuk implementasi kewajiban lembaga pendidikan dalam memfasilitasi masyarakat serta santri yang putus sekolah agar tetap mendapatkan hak belajar dan layanan administrasi kependudukan maupun pendidikan yang sah sesuai dengan undang-undang.

 

“Melalui PKBM Daguina, batasan ruang dan waktu formal tidak lagi menjadi halangan bagi para santri yang sedang mendalami ilmu agama di pesantren untuk tetap mendapatkan ijazah formal yang diakui negara melalui program Paket A, B, dan C secara gratis,” kata dia.

 

Ia menjelaskan, proses pembelajaran dirancang secara fleksibel namun tetap terstruktur melalui pendekatan hybrid dan kolaborasi bersama mahasiswa KKM Untirta. Hal ini bertujuan agar para santri tidak merasa terbebani, melainkan semakin diperkaya wawasannya melalui sinergi ilmu agama dan pengetahuan umum.

 

Program tersebut dapat menjadi batu loncatan strategis bagi para santri yang mendapatkan manfaat, dan angka anak putus sekolah di Banten dapat terus ditekan.

 

“Melalui program pengabdian berdampak ini, kami ingin memastikan bahwa anak-anak kita, khususnya para santri, tidak hanya mendapatkan ilmu agama di pesantren, tetapi juga memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan formal melalui kesetaraan gratis,” ujarnya.

 

Baca: Ini Langkah Strategis HKTI Pandeglang Periode 2026-2031

 

Baca: Nelayan Sidamukti Gelar Tasyakuran Laut

 

Ke depannya, program ini tidak hanya menargetkan kelulusan tingkat kesetaraan Paket C, tetapi juga mendorong para lulusan santri untuk berani melanjutkan pendidikan tinggi, baik di Untirta maupun di perguruan tinggi lainnya demi mewujudkan generasi bangsa yang cerdas, kompetitif, dan berakhlak mulia.

 

“Kami ingin memutus rantai putus sekolah agar mereka memiliki legalitas yang kuat, kesempatan kerja yang lebih baik, dan yang terpenting memiliki peluang luas untuk melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi,” sambung dia.

 

Kepala LPPM Untirta, Prof. Dr. Meutia, SE., MP., menyampaikan apresiasi atas terselanggaranya kerja sama ini. Ia berharap kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat dan berdampak luas terhadap Ponpes lain di Banten.

 

“Kegiatan ini terlaksana melalui program KKM yang khusus kami prioritaskan dengan judul KKM pesantren. Jadi memang mahasiswa mendaftar kemudian kita seleksi. Nah di pesantren kita melihat apa kebutuhannya. Kalau misalnya mereka membutuhkan ijazah paket C maka kita akan mendampingi,” tutur dia.

 

Pihaknya melalui LPPM Untirta bekerja sama dengan PKBM Daguina akan selalu mendampingi kegiatan yang bermanfaat seperti ini agar terus memberikan dampak positif bagi perkembangan dunia pendidikan.

 

“Semoga ke depan semakin berdampak, semakin banyak memberikan manfaat, baik bagi kami di kampus maupun masyarakat khususnya anak-anak kita di pesantren,” imbuhnya.

 

Baca: Kejar Target Eliminasi TBC 2030, Puskesmas Labuan Mulai Program Tracing dan CKG

 

Ditempat sama, Pimpinan PHMQ, Sirojudin ZA, menyambut baik dan mengapresiasi keberlanjutan program kerja sama yang telah memasuki tahun kedua ini.

 

Menurutnya, program ini menjadi jembatan emas bagi para santri untuk memperkaya wawasan, mempelajari ilmu di luar pesantren, serta mendapatkan legalitas formal berupa ijazah kesetaraan tanpa dipungut biaya.  

 

“Alhamdulillah, kerja sama ini memberikan banyak manfaat besar. Para santri tidak hanya bertambah wawasannya, tetapi juga terbantu dalam meraih masa depan yang lebih cerah dengan diterimanya ijazah kesetaraan ini,” ungkapnya.

 

Sementara, salah satu perwakilan santri, Raka menyampaikan kesan mendalamnya mewakili rekan-rekan sesama pelajar. Mereka mengaku sangat senang dan terbantu dengan adanya program sekolah kesetaraan gratis ini, di mana proses belajar mengajar dapat berjalan lancar di tengah kesibukan aktivitas pesantren.

 

“Alhamdulillah ketika mengikuti paket jadi nambah wawasan dan bisa belajar lagi tentang pelajaran diluar pondok dan kita jadi tahu bahwa pelajaran apa saja yang ada di pondok dan di luar. Kesannya senang karena kita dapat ijazah untuk mengakses biar bisa belajar di tempat lain,” tandasnya. (Mudofar).

Diberdayakan oleh Blogger.